Powered By Blogger

Sabtu, 24 April 2010

BERANI MENINGGALKAN KENYAMANAN

Pengharapan akan sebuah nilai yang dihargai dalam suatu masyrakat adalah sebuah impian yang ingin dicapai oleh seorang mahasiswa yang bernama Dian. dia rela meninggalkan semua kenyamanan yang ada dalam rumah kedua orang tuanya yang tidak begitu besar, namun nyaman dan membuat semua hati ingin untuk sekedar singgah ke rumah yang adem tersebut. Rumah yang selalu dipenuhi oleh canda tawa dengan gurauan-gurauan yang tidak membuat panas kuping, kemesraan yang selalu menempel pada dinding rumah, kesopanan yang selalu menyapa tamu didepan pintu utama, serta himbauan-himbauan hidup yang selalu menyembul dari atap-atapnya. Dian yang sejak kecil selalu berada didalam peraduannya yang nyaman mau tidak mau harus meninggalkan itu semua dikala usianya menginjak dewasa. Dia mencari sebuah status sosial yang lebih baik lagi dinegeri orang, yaitu menjadi seorang mahasiswa Jurusan Manajemen. dengan maksud agar ketika lulus nanti dia ingin menjadi seorang pialang saham.
Tahun pertamanya dinegri orang, dia merasakan sebuah kebebasan yang membuat dia seakan-akan menemukan sebuah dunia baru yang belum pernah dia jelajahi sebelumnya. Menemukan banyak orang asing, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah ditemukannya waktu dikota kelahirannya dulu, mencoba berbagai macam makanan yang belum menyentuh bibirnya sama sekali. Seakan menemukan permainan babak baru dalam hidupnya. Dian tidak harus penuh dengan usaha beradaptasi dengan lingkungan barunya karena dia merasa sebuah kehidupan yang menurut dia luar biasa. Selain itu juga masih ada saudara sepupunya di tahun pertamanya tersebut. Setelah tahun pertama yang Dian lalui bersama saudaranya itu dengan penuh semangat, tibalah sepupunya undur diri dari kota tempat dia mengadu nasib demi sebongkah ilmu ini itu. Saodara sepupunya telah menyelesaikan kuliahnya dan menjadi seorang sarjana yang tentunya masih belum mendapakan sebuah pekerjaan layaknya sarjana-sarjan lain di negara ini yang tentunya jarang sekali memiliki sebuah nilai jual atau nilai tambah yang kemudian membuat mereka bisa memasuki "pasar" tenaga manusia.
Di tahun keduanya ini dia harus hidup dinegeri orang dengan tangan dan kepalanya sendiri. Dia mencoba beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya sekarang. Meski kamar yang dia tempati tergolong besar dari kamar yang ia miliki waktu dirumahnya, yaitu 3 x 4 meter persegi, namun tak begitu membuat tidurnya nyenyak dimalam hari. 12 bulan pun telah dia lewati dengan semua adaptasi yang dibuatnya sendiri. Entah dengan memberikan gambar atau poster di dinding kamar, mengecat tembok kamar dengan warna-warna yang inspiratif bagi dia, ataupun dengan menata semua perabotannya tiap 2 bulan sekali. Pada tahun ketiganya, dia merasa harus menjadi seorang survival. Dunia yang dia tempati saat ini menuntutnya untuk memiliki mobilitas yang begitu tinggi. Harus membekali diri sendiri dengan kepala yang tak lagi "waras". Begitulah dia menyelesaikan tahun ketiganya dengan merasa penuh tekanan yang membuat Dian berfikir akan kenyamanan yang dia rindu pada 2 tahun lalu. Saat merasakan sebuah rumah yang benar-benar home sweet home. Hati yang dulu riang dan penuh dengan canda yang selalu merekah ditahun pertamanya meninggalkan rumah, kini telah beringsut menjadi sebuah senyuman sinis akan sebuah dunia yang ia tempati saat ini, "realis sekali duniaku sekarang, tidak ada satu tanganpun yang mau terulur untuk sekedar bersalaman atau sekedar mempersilahkan. Apakah ini yang sekarang menjadi style dari perubahan jaman yang semakin tak bisa diprediksi ini?".
Ketika hari hujan disore hari, Dian menatap keluar jendala dan angannya melayang pada seorang pialang saham yang dulu menjadi impiannya. Dia bertekad dalam hatinya, "aku harus kuat dengan berbagai resiko yang akan aku hadapi ditahun keempatku. Aku akan segera menyelesaikan studiku dan akan menjenguk sejenak kenyaman yang dulu pernah membuaiku dalam sebuah kearifan hati yang kemudian akan meninggalkannya kembali kenegri yang lebih tak bisa disangka-sangka setiap detinya. Dan tanpa terasa air bening menetes pada pipinya. Seluruh kemesraan, cinta kasih, kesopanan, dan keijakkan yang ada dirumahnya dulu membuat rumah dalam hatinya pengap. Tak ada lagi ventilasi dalam rumah hatinya, hingga sesak menghentakkan seluruh teriakkannya membumbung ke awan senja kemuning. Aku harus kuat...aku harus tegar...aku harus bisa menghadapi semuanya didunia yang tinggallah aku seorang diri untuk menggapai semua mimpi-mimpiku. Kurang lebih seperti itulah makna teriakkan yang ia bumbungkan itu.

Renungan :
Memiliki impian yang besar adalah kewajiban dalam sebuah kehidupan. Perencanaan yang detailpun juga harus dilakukan untuk menjadikannya nyata. Ketika kita telah melangkahkan kaki untuk menggapai impian itu janganlah kembali menengok kebelakang hanya untuk memilih baju yang lebih bagus didalam kamar anda, karena itu akan membuat anda lebih lama lagi menggapai mimpi itu dan akan melihat kenyamanan-kenyaman lain yang ada didalam kamar anda. Beranilah untuk memiliki niatan bulat untuk meninggalkan kenyemanan-kenyamanan yang anda rasakan sebelumnya demi kenyamanan-kenyamanan lain yang belum anda rasakan. So, beranikah anda untuk meninggalkan kenyaman itu sejenak???

Minggu, 08 November 2009

TEORI KENNETH WALTZ DALAM BALANCE OF POWER

PEMIKIRAN KENNETH WALTZ MENGENAI NEOREALIS DALAM POLITIK HUBUNG
PENDAHULUAN

Latar Belakang
        Para tokoh pemikir barat banyak yang memberikan kkontribusi dalam Hubungan antar negara, baik dalam hal politik, ekonomi, geopolitik, sosial, dan hal lain. Bahkan, tokoh-tokoh pemikir tersebut menyuguhkan berbagai pandangan dalam memecahkan berbagai masalah internasional dalam hubungannya antara negara yang satu dengan negara yang lain. salah satu tokoh pemikir barat yang memberikan sumbangan terbesar dalam Politik Internasional adalah Kenneth N. Waltz.
Pemikiran Kenneth Walt dengan Neorealis-nya memberikan dampak yang begitu sigmifikan pada abad 20, terutama sekali pada periode PD ke-1 sampai dengan pasca PD ke-2 dan Perang Dingin. Neorealisme seringkali dikenal dengan realisme struktural, yang dibedakan dengan realisme tradisional. Neorealisme menjadikan negara dan perilaku negara sebagai fokusnya dan berusaha menjawab pertanyaan mengapa perilaku negara selalu terkait dengan kekerasan. Dalam pemikiran Neorealisme Kenneth Waltz, terdapat 3 pokok penting yang disodorkann kepada kita. Dengan mengambil salah satu dari ketiga pemikiran tersebut-lah, saya mengambil sebuah contoh permasalahan yang sangat bersejarah dalam dunia internasional, yaitu Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai negara-negara yang berkekuatan besar dengan perimbangan kekuatan. Balance of Power yang terjadi saat itu adalah sistem perimbangan kekuatan bipolar.
Sitstem perimbangan bipolar tersebut menurut Waltz sebagai pencetus Neorealis, merupakan sistem yang mendukung akan adanya perdamaian dunia.


Batasan Masalah
  • Apakah Neorealis itu ?
  • Apakah perimbangan kekuatan dengan sistem bipolar mampu menciptakan perdamaian dunia?

Tujuan
Dengan Neorealisme-nya Kenneth Waltz, saya ingin mengetahui lebih dalam tentang Balance of Power dalam sistem bipolar, Perang Dingin antara Amerika dengan Uni Soviet. Apakah juga memang benar sistem bipolar mampu membuat dunia menjadi lebih damai, padahal banyak juga pemikir lain yang beranggapan bahwa sistem multipolar juga dapat menciptakan perdamaian dunia.


PEMBAHASAN

  1. Neorealisme
Neorealisme muncul pada tahun 1970-an, sebagian muncul sebagai sebuah respon terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi oleh teori interdependensi dan sebagian lagi sebagai sebuah korektif terhadap realisme tradisional yang mengabaikan dorongan-dorongan ekonomi. Tokoh paling masyur dalam tradisi neorealisme adalah Kenneth Waltz dengan karyanya Theory of International Politics. Secara umum, neorealisme berusaha menjelaskan politik internasonal secara lebih ilmiah dibandingkan kaum realis klasik atau neoklasik.
Seperti yang diindikasikan, Waltz mengambil realisme klasik dan neoklasik sebagai startingpointnya dan membangun beberapa dari ide inti dan asumsi-asumsinya. Ia mengasumsikan bahwa masalah fundamental dari negara adalah keamanan dan bertahan hidup (survival). Ia juga mengasumsikan bahwa masalah utama dari konflik great power adalah perang, dan bahwa tugas utama dari hubungan internasional diantara negara ber-power besar adalah perdamaian dan keamanan.
Inti pandangan realisme adalah: pertama, melihat perilaku politik negara sebagai perilaku yang dikonstruksi oleh struktur sistem politik internasional (determinisme sistem internasional), bukan refleksi perilaku manusia seperti yang diimani oleh kaum realis klasik dan neoklasik. Negara hanya menjadi tawanan struktur sistem politik internasional. Dengan demikian, segala perilaku negara tidak ada yang lepas dari struktur sistem.
Kedua, bentuk dasar politik internasional adalah struktur anarki, yaitu tidak ada kedaulatan yang lebih tinggi di luar negara, yang tersebar diantara negara-negara. Pada struktur yang anarki tersebut, negara-negara dibedakan atas dasar kapabilitasnya dalam menjalankan fungsi negara, bukan pada jenis fungsi yang dijalankan negara. Perubahan pada distribusi kapabilitas negara-negara berdampak pada perubahan pada wajah politik internasional. Mereka tidak mengartikan bahwa keadaan ini penuh dengan chaos atau kekacauan. Tapi, anarki mengimplikasikan bahwa tidak adanya otoritas sentral yang mampu mengontrol tingkah laku negara.
Ketiga, perimbangan diantara kekuatan dunia adalah mungkin terjadi, tetapi perang juga menjadi kemungkinan yang terjadi pula. Perdamaian akan terjadi apabila dunia terpilah secara bipolar, sebab (1) jumlah konflik negara-negara berkekuatan besar lebih sedikit, dan hal itu mengurangi kemungkinan perang negara-negara berkekuatan besar; (2) lebih mudah menjalankan sistem penangkalan yang efektif sebab lebih sedikit negara-negara berkekuatan besar yang terlibat; (3) diantara kekuatan bipolar kemungkinan salah perhitungan dan salah tindakan lebih rendah.
Ia mengambil beberapa elemen dari realisme klasik dan neoklasik sebagai sebuah startingpoint – misalnya negara-negara yang independen berada dan beroperasi dalam sebuah sistem dari anarki internasional. Tetapi ia menyimpang dari tradisi itu dengan mengabaikan perhatian-perhatian normatifnya dan dengan mencoba untuk melindungi sebuah teori hubungan internasional yang ilmiah. Teori Waltz akan politik internasional (1979) berusaha melindungi sebuah penjelasan yang ilmiah dari sistem politik internasional. Pendekatan eksplanatorinya sebagian besar dipengaruhi oleh model positivis dari ekonomi. Teori yang ilmiah dari hubungan internasional menuntun kita untuk berharap bahwa negara-negara dapat bertindak dalam cara-cara yang dapat diprediksikan. Dalam pandangan Waltz teori hubungan internasional yang paling baik adalah sebuah teori sistem neorealis, dan pada kontinuitas dan perubahan-perubahan dari sistem. Dalam realisme klasik, para pemimpin negara dan penilaian-penilaian subjektifnya dari hubungan internasional adalah pusat perhatiannya. Dalam neorealisme, sebaliknya, struktur dari sistem, terutama distribusi power yang relatif, adalah pusat dari fokus analisis. Para aktor kurang penting karena struktur mendorong mereka untuk bertindak dalam cara atau jalan tertentu. Struktur kurang lebih menentukan aksi atau tindakan.

  1. Bipolar dalam Balance of Power
Menurut teori neorealis yang dikemukakan oleh Waltz, negara sama dalam seluruh respek fungsional – misalnya disamping kebudayaan mereka yang berbeda atau ideologi atau konstitusi atau personilnya, mereka semua menampilkan tugas dasar yang sama, yaitu keamanan bagi negara dan bagaimana negara tersebut dapat bertahan dari negara-negara lain, struktur dari sistem berubah dengan perubahan di dalam distribusi kapabilitas melewati unit-unit sistem. Dalam kata-kata Waltz sendiri , unit–unit negara dalam sistem internasional “dibedakan khususnya oleh besar kecilnya kapabilitas mereka dalam menjalakan tugas yang serupa…struktur suatu sistem berubah seiring dengan perubahan dalam distribusi kapabilitas antar unit-unit sistem” (Waltz 1979:97). Dengan kata lain, perubahan internasional terjadi ketika negara-negara berkekuatan besar muncul dan tenggelam, dan dengan demikian akan terjadi pergeseran kekuatan. Alat-alat yang khas dari perubahan itu adalah perang antara negara-negara berkekuatan besar, seperti halnya pada Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet.
Negara-negara yang sangat penting dalam menentukan perubahan-perubahan dalam struktur internasional adalah negara-negara berkekuatan besar. Perimbangan kekuatan diantara negara-negara dapat dicapai, tetapi perang selalu menjadi alternatif dalam sistem yang anarkis. Waltz membedakan antara sistem bipolar, seperti yang terjadi selama perang dingin, dan sistem multipolar , seperti yang terjadi baik sebelum maupun sesudah Perang Dingin. Waltz yakin bahwa sistem bipolar lebih stabil dan karenanya menyediakan jaminan perdamaian dan keamanan yang lebih baik dibanding sistem multipolar : “hanya dengan dua negara berkekuatan besar, keduanya dapat diharapkan bertindak untuk memelihara sistem” (Waltz 1979: 204). Hal itu disebabkan dalam memelihara sistem tersebut mereka memelihara diri mereka sendiri. Menurut pandangan tersebut, Perang Dingin merupakan periode stabilitas dan perdamaian internasional. Waltz (1979: 195) berpendapat bahwa negara-negara berkekuatan besar adalah mereka yang mengatur sistem internasional. Negara-negara berkekuatan besar dipahami oleh Waltz memiliki ‘kepentingan besar dalam sistem mereka” dan bagi manajemennya dari sistem tersebut bukan hanya sesuatu yang menjanjikan tetapi ia juga sesuatu yang “bermanfaat”. Sangat jelas bahwa Waltz menilai ketertiban internasional. Jelas juga, bahwa ia yakin ketertiban internasional lebih mungkin dicapai dalam sistem bipolar daripada sistem multipolar. Perbedaaan antara neorealisme dan realisme klasik dan neoklasik dalam hal ini adalah bahwa Waltz menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sudah semestinya akan terjadi.
Hipotesis yang mungin dalam sejarah adalah Amerika Serikat dan Uni Soviet dengan mengambil tindakan bersama (yaitu kerjasama) di awal 1990-an untuk menghentikan persaingan militer internasional dan karenanya mengakhiri sistem bipolar dan Perang Dingin. Mengingat berakhirnya Perang Dingin, agaknya neorealisme Waltzian seharusnya direvisi untuk menggabungkan kemungkinan sejarah di mana dua negara berkekuatan besar mungkin dalam keadaan-keadaan tertentu menghentikan sistem bipolar daripada melanggengkannya tanpa terlibat dalam perang di mana salah satu dari mereka dikalahkan. Masalah ini masih menjadi perdebatan di antara pakar-pakar studi Hubungan Internasional, apakah Amerika Serikat mengalahkan Uni Soviet dalam Perang Dingin atau pemerintahan Soviet, khususnya Presiden Gorbachev, mengakhirinya dengan mundur dari medan pertempuran. Dan disini, kebanyakan kaum neorealis cenderung mengambil pandangan yang pertama.
     Waltz menganggap realisme klasik dan neoklasik sebagai titik awal dan mengembangkan sebagian asumsi dan pemikiran intinya. Sebagai contoh, ia menggunakan konsep anarki internasional dan memfokuskan secara khusus pada negara-negara. Ia menganggap bahwa perhatian mendasar pada suatu negara adalah mnegenai keamanan dan kelangsungan hidup baik negara ataupun warganya. Ia juga menganggap bahwa masalah utama konflik negara berkakuatan besar adalah perang, dan bahwa tugas utama Hubungan Internasional di antara negara-negara berkekuatan besar adalah perdamaian dan keamanan.
        Tidak ada tempat bagi pembuat kebijakan luar negari dalam teori Waltz yang bebas dari struktur sistem. Dengan demikian, dari contoh di atas kaum neorealis akan memandang kebijakan Gorbachev yang mundur dari Perang Dingin karena dipaksa oleh ‘kekalahan’ Uni Soviet di tangan Amerika Serikat. Gambaran Waltz pada pemimpin negara dalam menjalankan kebijakan luar negeri hampir menyerupai gambaran mekanis yang mana pilihan-pilihan mereka dibentuk oleh hambatan-hambatan struktural internasional yang mereka hadapi, seperti ditekankan pada kalimat berikut :
“Kepentingan para penguasa, dan kemudian negara, membuat suatu rangkaian tindakan; kebutuhan kebijakan muncul dari persaingan negara yang diatur; kalkulasi yang berdasarkan pada kebutuhan-kebutuhan ini dapat menemukan kebijakan-kebijakan yang akan menjalankan dengan baik kepentingan-kepentingan negara; keberhasilan adalah ujian terakhir dari kebijakan itu, dan keberhasilan didefinisikan sebagai memelihara dan memperkuat negara…. Hambatan-hambatan struktural menjelaskan mengapa metode-metode tersebut digunakan berulang kali disamping perbedaaan-perbedaan dalam diri manusia dan negara-negara yang menggunakannya.” (Waltz 1979: 117)
Pendekatan neorealis Waltz tidak menyediakan arah kebijakan yang eksplisit bagi para pemimpin negara ketika mereka meghadapi masalah-masalah praktis politik dunia. Waltz (1979:194-210) mengajukan pertanyaan tentang “management” masalah internasional”. Bagi Waltz, bagaimanapun juga, kepentingan nasional terlihat beroperasi seperti sebuah sinyal otomatis yang memerintah para pemimpin negara ketika dan kapan harus bergerak. Teori neorealis dari Waltz menghipotesiskan bahwa mereka akan selalu melakukannya secara otomatis.
Dalam sistem bipolar yang Waltz kemukakan pada paragraf sebelumnya, tampak bahwa dia hanya melihat kepentingan politik negara sebagai aktor dalam Hubungan Internasional. Disana dia tidak sampai memikirkan bagaimana kesejahteraan warga negara harus juga dipenuhi, bagaimana keadaan sosial yang akan terjadi dikemudian waktu ketika keputusan atau kenijakan luar negari yang dikeluarkan pada akhirnya dalah peperangan untuk menuju kedamaian dunia. Saya melihat sistem bipolar disini sangatlah rentan. Hal ini karena apabila kedua kekuatan besar tersebut melakukan adu kekuatan, maka tidak dielakkan lagi akan muncul penguasa tunggal (unipolar) yang akhirnya akan muncul kediktatoran penguasa dunia tunggal.


PENUTUP

Kesimpulan
Neorealis berkembang pada sekitar tahun 1970-an. Pokok pemikiran dari Kenneth Waltz adalah (1) jumlah konflik negara-negara berkekuatan besar lebih sedikit, dan hal itu mengurangi kemungkinan perang negara-negara berkekuatan besar; (2) lebih mudah menjalankan sistem penangkalan yang efektif sebab lebih sedikit negara-negara berkekuatan besar yang terlibat; (3) diantara kekuatan bipolar kemungkinan salah perhitungan dan salah tindakan lebih rendah.
Waltz menganggap bahwa dunia akan mencapai perdamaian ketika sistem internasional yang terjadi adalah bipolar. Sementara itu, multipolar kekuatan dunia rentan bagi terjadinya perang karena pergerakan aliansi kekuatan dapat terjadi secara lebih liar. Negara yang kuat adalah negara yang mampu memperngaruhi sistem internasional, dan negara yang mampu mempengaruhi sistem internasional adalah negara yang memiliki great power. Namun, kalau saya melihat, pandangan Waltz mengenai bipolar pada saat itu merupakan dampak dari adanya Perang Dingin antar Amerika dan Uni Soviet yang sama-sama memiliki kekuatan yang seimbang (Balance of Power). Andaikan, Waltz hidup pada jaman sekarang mungkin akan memiliki pandangan yang berbeda. Sehingga, ketika pandangan Waltz dengan Neorealis-nya yang memandang bahwa perdamaian dunia akan tercapai ketika hanya ada dua kekuatan besar dalam hubungan politik internasional, akan beralih pada sistem yang berbeda, entah itu unipolar ataupun multipolar sebagaiman yang terjadi pada saat ini, di mana ada 3 negara berkekuatan besar yang mampu memperngaruhi sistem internasional.


DAFTAR PUSTAKA

Robert Jackson dan Georg Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005
Scott Burchill, Realism and Neo-realism, dalam Scott Burchill, et.al., Theories of International Relations, Palgrave, New York, 2001
Waltz, Kenneth N, Theory of Internasional Politics, Addison-Wesley Publishing Company, Philippines, 1979

Minggu, 10 Mei 2009

PELESTARIAN KEBUDAYAAN TOPENG MALANGAN DITENGAH ERA GLOBALISASI DI KABUPATEN MALANG

Merujuk Pada Sang Maestro Topeng Malangan



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
              Globalisasi yang semakin meluas menjadikan sekat antara negara yang satu dengan negara yang lain begitu maya (borderless). Banyak sekali hal-hal yang ditawarkan dalam konsep gobalisasi tu sendiri, misalnya saja ideologi ataupun bahkan kebudayaan yang sebenarnya tanpa disadari telah membuat budaya lokal terkikis sedikit demi sedikit.
          Masuknya budaya Westernisasi ke Indonesia membuat budaya lokal yang telah singgah terlebih dahulu di Indonesia mengharuskan-nya memiliki nilai tawar yang lebih kepada masyarakat terutama kepada generasi muda, supaya mereka dapat bertahan dan tetap hidup ditengah dunia yang semakin meng-global. Indonesia sebenarnya memiliki banyak sekali budaya yang menarik salah satunya topeng yang terkenal di tiga tempat, yaitu topeng Bali, topeng Cirebon dan topeng Malangan.
        Kota Malang merupakan kota yang sebagian besar wilayahnya berupa dataran tinggi disertai panorama yang indah. Terbukti dengan banyaknya taman yang asri serta bangunan arsitektur Eropa yang sampai kini masih tetap dipertahankan. Banyaknya objek wisata menarik disertai dengan pelayanan masyarakat yang sangat begitu ramah. Jumlah penduduk Kota Malang kira-kira mencapai 700.000 dengan luas sekitar 124.456 kilometer persegi. Kepadatan penduduk mencapai 5.000-12.000 jiwa perkilometer persegi. Masyarakat Malang terdiri dari berbagai etnik ( terutama suku Jawa, Madura, sebagian kecil Arab dan China)
                Kekayaan etnik dan budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisonal yang ada. Salah satunya yang terkenal adalah tari topeng , namun kini semakin tenggelam oleh kesenian modern. Gaya kesenian ini adalah wujud pertemuan gaya kesenian Jawa Tengahan (Solo, Yogya), Jawa Timur-Selatan (Ponorogo, Tulungagung, Blitar) dan gaya kesenian Blambangan (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi). Perpaduan itu beberapa budaya itu menyebabkan akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali. (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan.
             Tari Topeng diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. Sampai saat ini Tari Topeng masih bertahan dan masih memiliki sesepuh yaitu Mbah Karimun yang tidak hanya memiliki keterampilan memainkan tari ini namun juga menciptakan model - model topeng dan menceritakan kembali hikayat yang sudah berumur ratusan tahun. Tari Topeng sudah mendekati kepunahan walaupun masih tetap mengikuti even-even penting kesenian tradisional tingkat nasional.

B. Rumusan Masalah
  1. Bagaimanakah sejarah keberadaan Topeng Malangan?
  2. Bagaimana Topeng Malangan dapat bertahan ditengah Era Globalisasi?

C. Tujuan
  1. Untuk mengetahui bagaimanakah sejarah topeng Malangan.
  2. Mengetahui bagaimanakah caranya melestarikan topeng Malangan dengan berbagai tantangan dari dunia luar.

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

A. Sejarah Topeng Malangan.
            Tari Topeng Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan. (Claire Holt. 2000. Melacak Jejak-jejak Perkembangan Seni Indonesia).
        Tari Topeng sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. Tari Topeng adalah perlambang bagi sifat manusia, karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda, menangis, tertawa, sedih, malu dan sebagainya ( Drs. Sumarwahyudi, dkk.1999. Kerajinan Topeng).
          Berdasarkan wawancara dengan istrinya Pak Karimun ( pengrajin Topeng Malang ), yaitu Mbah Siti Maryam, telah kami peroleh informasi tentang sejarah tari ini. Menurutnya, Tari Topeng diciptakan oleh Airlangga ( putra dari Darmawangsa Beguh ) dari Kerajaan Kediri. Ia kemudian menyebarkan seni tari itu sampai ke Kerajaan Singosari yang dipimpin oleh Ken Arok. Raja Singosari itu kemudian menggunakan Tari Topeng untuk upacara adat, drama tari yang terdiri dari kisah Ramayana, Mahabarata, dan Panji. Selain itu, Tari topeng juga digunakan untuk penghormatan pada para tamu dan ritual memuja arwah nenek moyang.
           Kemudian pada awal penyebaran agama islam di Indonesia, para Wali Sanga mencoba memperbaiki tari topeng agar dapat disesuaikan dengan aturan agama islam. Diantaranya adalah dengan merubah tata busana Tari Topeng menjadi lebih sopan dan juga mengganti bahan alat musik Tari Topeng ( gamelan ) yang semula dari besi kemudian diganti kuningan. Tujuan penggantian bahan gamelan Tari Topeng menjadi kuningan adalah untuk memperkeras alunan musik tari tersebut. Karena dengan alunan yang keras, banyak rakyat yang akan datang ke tempat tarian itu. Dan para Wali Sanga dapat menyebarkan agama islam di tempat itu. Pada saat zaman penjajahan, tari topeng sudah hampir punah. Dan hanya pejabat-pejabat tinggi atau pemerintah Kolonial Belanda saja yang mengerti tentang Tari Topeng. Tetapi ada seorang pelayan Belanda bernama Panji Reni yang ditugaskan mencuci topeng . Ia kemudian tertarik untuk mempelajari tari tersebut. Akhirnya, ia mencoba membuat topeng di Polowijen, Blimbing dan ternyata hasilnya sangat memuaskan. Kemudian, ayah Pak Karimun ( Ki Man ) juga mempelajari Tari Topeng tersebut dan mencoba membuat topeng di Kedung Monggo, Kecamatan Pakisaji, Malang. Dan pada tahun 1933, Pak Karimun belajar menari topeng bersama ayahnya. Dan akhirnya ia menjadi pengrajin topeng serta pendiri sanggar tari karena takut Tari Topeng akan punah.

Macam-macam Topeng Malangan
      Tari Topeng sendiri merupakan perlambangan dari berbagai sifat manusia, karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda; menangis, tertawa, sedih, malu dan sebagainya. Tokoh –tokoh dalam tari topeng yang terkenal ada 3 pasangan, yaitu : topeng Panji Asmara Bangun yang berwarna hijau dengan Sekartaji yang berwarna putih adalah pasangan pertama. Pasangan kedua adalah topeng Gunung Sari yang berwarna putih dengan Sang Ayu Ragil kuning yang warnyanya kuning. Serta Klono Suwondo dengan Topeng Bapang yang berwarna merah. Untuk perlambangan pada cat wajah topeng sendiri memiliki arti. Arti warna putih adalah suci, warna hijau artinya kemakmuran, sedangkan kuning berarti kebersihan dan warna merah berarti keras, murka, dan licik. Dalam tari Topeng juga ada topeng yang bentuk hidungnya panjang, dan ini berarti laki-laki suka mencium perempuan, juga yang mata keranjang atau bisa disebut sebagai laki-laki “hidung belang”. (Soedarsono. 1979. Beberapa Catatan Tentang Seni Pertunjukan Indonesia. Yogyakarta : Konservatori). Mengapa jenis dasar Topeng Malangan hanya ada enam, ini dikarenakan supaya guyub (rukun), tidak sering terjadi perpecahan, tambah Mbah Maryam yang merupakan istri dari Mbah Karimun.

Pembuatan Topeng Malangan.
          Untuk bahan dasar pembuatan topeng itu sendiri tidaklah sulit untuk dicari, sebenarnya semua kayu bisa digunakan sebagai bahan pembuatan topeng, namun ada jenis kayu yang biasanya digunakan untuk bahan membuat topeng di antaranya mahoni, rambutan, waru, sengon, randu, kembang, pete, alpukat, klengkeng, nangka, sawo, dan pule, tutur Mak Mariam.
Ada pula alat-alat khusus yang sesuai dengan fungsinya masing-masing untuk membuat topeng Malangan ini, di antaranya adalah :
  • Kapak atau gergaji, digunakan untuk membelah batang pohon yang masing berbentuk tabung dengan ukuran tinggi 21cm menjadi 2 bagian yang sama.
  • Gergaji tangan, untuk memebentuk bagian atas topeng.
  • Patuk, untuk membuat cekungan bagian dalam topeng.
  • Tatah, untuk membentuk pola dasar ( muka ) topeng.
  • Pangot
  • Gergaji Pelat, untuk melobangi mata topeng.
  • Kerok, untuk menipisi dan memperhalus bagian dalam topeng.
Mbah Karimun sang Maestro Topeng Malangan ini sekarang tidak berdaya lagi untuk membuat topeng karena kesehatan beliau yang semakin menurun. Sehingga untuk tetap melestarikan budaya topeng Malangan ini, di alihkan kepada istrinya baik dalam pembuatan topengnya ataupun dalam seni tari itu sendiri. Dalam pembuatan topeng Malangan itu sendiri ibu Siti Mariam mengggunakan modal sendiri untuk membeli semua bahan dan peralatan. Sedangkan jika saya tilik dari keadaan kehidupan mereka, Mbah Karimun dan Mbah Maryam hanya cukup untuk makan sehari-hari dan untuk biaya berobat Mbah Karimun yang semakin renta. Sehingga, wajarlah andaikan Mak Yam (panggilan sehari-harinya) hanya bisa membuat topeng dengan stok yang terbatas. Mak Yam membuat topeng dalam jumlah besar ketika mendapatkan pesanan saja. Dalam membuat topeng, Mak Yam biasanya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
  • Kayu (yang telah kami sebutkan jenisnya diatas tadi), dengan ukuran tinggi 21cm kemudian dibelah menjadi dua bagian yang sama (10,5cm).
  • Kayu tersebut kemudian dibuat menjadi 7,5cm.
  • Setelah menjadi ukuran 7,5cm, kayu tersebut dibentuk sedemikian rupa sehingga membentuk rangka sebuah wajah seperti pada gambar di atas.
  • Setelah mendapatkan bentuk dasar dari topeng apa yang ingin dibuat, kemudian mulailah pembuatan ukiran pada atas topeng (lung luwe, dele kecer, kembang suryo, dan ukel).
  • Membentuk pipi.
  • Membentuk bibir.
  • Memperhalus bentuk mata.
  • Memperhalus bentuk ukiran rambut.
  • Setelah semua sudah cocok dengan karakter yang diinginkan barulah memperhalus semuanya dengan ampelas halus.
  • Setelah itu proses pewarnaan.
  • Dan finishing.
Proses pemasaran Topeng Malangan ini tidaklah terstruktur sebagaimana pemasaran barang-barang dagang lainnya. Rata-rata pembeli datang langsung ke pengrajin untuk memesan taupun membeli langsung topeng yang sudah tersedia. Harga dari Topeng ini berkisar antara Rp. 20.000,- hingga 5 jutaan., tergantung dari karakter topeng. Karakter topeng yang dimaksud disini adalah sifat, laku, dan pembawaan yang dimiliki oleh masing-masing topeng. Pembuatan 1 buah topeng bisa memakan waktu hingga 1 minggu (minimal).
Hingga tahun 2000-an paling tidak, ada 4 sentra pengembangan seni topeng malang. Selain di Glagahdowo, ada juga sentra topeng milik Ki Soleh di Mangundarmo, Tumpang, Kedungmonggo, Pakisaji milik Mbah Karimun, dan di Jabung Pakis. Perbedaan keempat sentra tersebut semata dimungkinkan karena pengaruh geografis serta interpretasi para pewarisnya. Dari itu muncul aliran-aliran khas daerah pembuatnya. Seperti halnya perbedaan tekstur topeng yang tergantung dari keterampilan para pembuatnya. Misalnya saja di Glagahdowo, tekstur Sekartaji terkesan lebih putih dan gemuk.



B. Pelestarian Topeng Malangan ditengah Era Globalisasi.
         Mungkin apa yang menjadi fenomena saat ini adalah suatu kebenaran. Pengaruh global semakin menenggelamkan kesenian tradisional seperti Topeng Malangan ini. Pementasan wayang topeng yang memakan waktu kurang lebih satu malam itu sudah dianggap tidak praktis lagi untuk dipentaskan saat hajatan. Saat ini lebih banyak muncul pentas-pentas seni selain tari daripada pentas Topeng Malang. Menurut Maestro Topeng Malang, Mbah Karimun beberapa waktu lalu, sekarang ini tidak lagi banyak job menari Topeng Malangan selain saat peringatan HUT Malang. "Terakhir kami pentas besar saat HUT Malang beberapa waktu lalu," tutur istri Mbah Karimun, Siti Maryam. Yang lebih banyak dilakukan Mbah Karimun untuk melestarikan budaya Topeng Malangan, menurut Mbah Maryam, saat ini cara yang tepat untuk melestarikan Topeng Malangan adalah dengan tetap melatih anak-anak kecil di lingkungannya untuk belajar membuat Topeng Malang dan tari Topeng Malangan dengan mendririkan Padepokan Sri Margo Utomo. Melalui dua murid Mbah Item yakni Mbah Rasimun dan Pak Sutrisno. Sehingga, padepokan Topeng Malangan semakin berkembang. Tidak sedikit orang yang menimba seni adiluhung di sana, tidak hanya warga sekitar, namun juga dari luar kota bahkan dari mancanegara. Salah satu murid yang pernah berguru di tempat itu adalah Didik Nini Thowok, seniman tari asal Yogyakarta. Topeng Malang atau Topeng Malangan pada hakikatnya adalah wayang orang yang mengenakan topeng. Cerita yang disajikan pun seputar masalah kepahlawanan atau cerita panji. Cerita Panji menampilkan setting latar belakang Kerajaan Jenggala dengan tokoh Prabu Lembu Amiluhur dan Raden Panji Asmara Bangun, Kerajaan Daha dengan tokoh Lembu Amisesa, Gunung Sari, dan Dewi Sekartaji, serta Kerajaan Kediri dengan tokoh Pambelah, Pamecut, Patih Kudamawarsa, Lembu Pati, dengan tokoh antagonis Klana Sabrang, Bapang, dan Wadyabala. Karena terbatasnya pelakon, sementara tokoh yang diperankan sangat banyak, karena itulah dipilih media topeng. Oleh karena itu seorang penari dituntut dapat membawakan lebih dari satu atau dua karakter. Dalam pementasan, cerita Panji memakai 20-30 topeng yang dipentaskan antara 8-10 orang.            
              Seiring dengan hal itu, budaya komunitas masyarakat Malang-pun kian memudar. Era tahun 1960-1990-an, komunitas seni pernah tumbuh subur seperti Himpunan Seni Budaya Islam Malang (1960-an), Kelompok Studi Teater (Kloster) Malang (tahun 1960-an), Rumah Budaya (2000), Lembaga Budaya Desa (2001), Forum Cerpen Malang (2000), Forum Wolulikuran (2004), dan komunitas-komunitas seni lainnya. Kini semuanya tinggal nama. Mungkin mulai berkurangnya rasa memiliki Topeng Malangan sebagai identitas adalah salah satu bentuk kehilangan Malang yang tidak langsung terasa.Yang lebih terlihat nyata adalah hilangnya fasilitas publik yang bisa menjadi wadah berkumpul dan mengapresiasikan segala potensi seperti di Taman Indrokilo, GOR Pulosari, dan sarana publik lain. Dewan Kesenian Malang juga semakin sepi. Satu per satu semuanya disulap menjadi perumahan atau pertokoan guna mendukung urbanisasi. Seiring itu, hilang pula sebutan Garden City untuk Malang karena taman-taman kota mulai hilang berganti gedung dan pertokoan. Kondisi ini sangat kontras dan memprihatinkan dengan pencapaian Kota Malang yang cukup luar biasa secara ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Kota Malang tahun 2007 diklaim mencapai 6,7 persen, jauh mengungguli target pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6,5 persen, jauh meninggalkan pertumbuhan provinsi Jawa Timur yang hanya 6,3 persen, dan capaian pertumbuhan nasional yang tahun ini hanya bisa mencapai 6,4 persen. Dan disaat dibuatnya pesta rakyat Malang Kembali, orang mulai bertanya. Malang Kembali seperti apakah yang coba disuguhkan kepada khalayak ramai. Apakah wayang-wayang kulit yang ternyata justru didatangkan dari Solo dan Wonogiri (seperti Pak Sogi dan Pak Sabar yang membawa wayang buatannya hingga sebanyak lima kodi di sudut Jalan Ijen). Boleh jadi Malang Kembali tanpa sadar merupakan salah satu bentuk perwujudan ekspresi kekhawatiran dan kerinduan warga Malang akan seni dan tradisi. Seni dan tradisi yang mulai luntur seiring perkembangan zaman. Warga Malang mulai risau. Jika semakin lama identitasnya tergerus zaman, semakin lama yang ditakutkan adalah generasi yang selanjutnya tidak mengetahui budayanya sendiri.
           Selain dengan cara mewariskan karakter, tarian Topeng pada masyarakat sekitar serta membuat sanggar seni. Kabupaten Malang juga telah menyisipkan kebudayaan Malang ini sebagai salah satu kurikulum sekolah, terutama tingkat Menengah Pertama dan Menengah Umum. Bahkan di beberapa universitas seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, Universitas Merdeka juga memiliki jurusan seni tari dan salah satu kurikulumnya membahas tentang Tari Topeng Malangan. Dan Topeng Malangan sendiri juga tetap menjadi salah satu tujuan warga asing untuk menambah koleksi topeng mereka, seperti halnya Turis dari Belanda yang beberapa waktu yang lalu bertandah ke rumah Mbah Karimun untuk membeli salah satu koleksi topeng beliau.
              Dunia maya yang semakin membanjir sebenarnya merupakan media yang sangat menguntungkan jika bisa digunakan secara maksimala. Karena media ini menjadi salah satu media pengenalan dan pemasaran Topeng Malangan. Dengan memasuki situs-situs tertentu yang tantunya berhubungan dengan kesenian khas Malang ini, maka kita dapat mengetahui bagaimanakah budaya Topeng Malangan baik masyarakat nasional bahkan internasional. Dan dari sanalah beberapa orang mengharapkan kebudayaan Topeng Malangan dapat tetap terjaga kelestariannya demi anak cucu kita kelak.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
  1. Sejarah Tari Topeng Malangan berawal dari Prabu Airlangga putra dari Darmawangsa Raja dari Kerajaan Kediri, kemudian ia menyebarkannya ke seluruh pelosok negeri termasuk Malang.
  2. Cara melestarikan Seni Tari Topeng Malang adalah dengan mempelajari tarian tersebut secara intensif, dan menyebarkannya lewat daerah-daerah atau lembaga pendidikan, serta memberi motivasi pada anak cucu untuk belajar menari, serta melalui media massa dan dunia maya.
Sementara itu, generasi muda terutama mereka para pewaris langsung, mempunyai kewajiban moral untuk meneruskan tradisi tersebut. Dan peran semua pihak sangat diharapkan agar Topeng Malang yang telah menjadi ciri khas tetap lestari.

DAFTAR PUSTAKA

Claire Holt. 2000. Melacak Jejak-jejak Perkembangan Seni Indonesia. Diterjemahkan oleh Soedarsono. Bandung : MSPI.
Dra. H.A.R.D. Kemalawati dan Dra. Kapti Asiatun. Oktober 1990. Tarian Daerah. Koentjaraningrat. 1979. Skripsi.
Drs. Sumarwahyudi, dkk. 1999. Kerajinan Topeng.
Edi Setyawati. 2002. Indonesian Heritage. Jakarta : Groiler International.
Kompas. Jum’at, 4 Januari 2002.
Sutirjo, dkk. Karya Ilmiah Remaja. Malang : Citra Mentari.
Soedarsono. 1979. Beberapa Catatan Tentang Seni Pertunjukan Indonesia. Yogyakarta : Konservatori.
http://rd.yahoo.com/M=210544.1579876.3135161.1261774/D=egroupweb/S=1705043464:M/A=776675/R=0/*
http://ads.track-star.com/adspace.ts?ts=1;2;217;107_220_105_264"target=_top>src
http://us.a1.yimg.com/us.yimg.com/a/di/dietsmart/300x250_11_12.gif"alt
http://us.adserver.yahoo.com/l?M=210544.1579876.3135161.1261774/D
http://docs.yahoo.com/info/terms/
www.jawapos.com
www.sinarharapan.com
www.kompasgramedia.com



MOHON TINGGALKAN KOMENTAR ANDA SETELAH MEMBACA
TERIMAKASIH.....

Selasa, 04 November 2008

Ralat Info Inka Record Terbaru

PT. INTAN KHARISMA RECORD
AUDISI BAND dan PENYANYI

Dalam rangka pelaksanaan Event Audisi dan Festival “Meraih Bintang Musik Indonesia”, PT. INTAN KARISMA RECORD yang beralamatkan di Gedung Artaloka Lt.14 Jl.Jenderal Sudirman kav.2 akan mengadakan pelaksanaan Audisi life untuk mencari musisi-musisi baru yang multitalenta hingga dapat membangkitkan semangat di blantika musik Indonesia yang belakangan ini mengalami kelesuan.
Selain itu PT.INTAN KARISMA RECORD (PT. INKA) dalam pelaksanaan Audisi life ini melakukan penyeleksian yang super ketat, karena data yang diperoleh PT.INKA sudah mencapai ratusan peserta dalam waktu yang relative singkat. Maka dari ratusan peserta tersebut, PT. INKA baru berhasil menyeleksi kurang lebih 50 peserta auidisi yang memenuhi kriteria menurut stadar PT. INKA dan Standar Nasional. Maka dari itu PT.INKA masih memberikan kesempatan pada calon peserta baru yang akan mendaftarkan diri untuk dapat mengikuti acara audisi life yang akan dibuka sampai tanggal 30-November-2008.
Hadiah bagi 10 pemenang dari tiap kategori:
  • Kontrak Rekaman.
  • Promo Tour Nasional
  • Hadiah Menarik lainnya.
Waktu dan Tempat:
  • Tekhnikal Meeting akan di laksanakan tanggal 01-05 Desember 2008.
  • Audisi Life akan diadakan tanggal 06-07 Desember 2008.
  • Semi Final akan dilaksanakan tanggal 20-21 Desember 2008.
  • Dan Grand Final akan di laksanakan tanggal 27-28 Desember 2008.
  • Lokasi TMII
Persyaratan :
  • Administrasi Audisi dan Festival Tingkat Nasional sebesar Rp.300.000, dan Peserta berhak untuk mengikuti Audisi Life.
  • Sertakan Demo life dan profil peserta (Khusus Untuk Group Band dan syarat ini bisa Menyusul)
Kategori Peserta:
  • Group Band Umum, Mahasiswa, Pelajar.
  • Solo Pop dan Solo Dangdut (Usia Beranjak Remaja, Remaja dan Dewasa)
  • Pop Cilik (Usia 5th – 13th)
Contac Person:
  • Abi : 085691060781 / 021-99913771
  • Niken : 081367596683
  • Teguh : 021-99835535
NB: Setiap perubahan yang mungkin terjadi akan kami beritahukan baik secara langsung kepada peserta, ataupun melalui media cetak dan media elektronik/internet.
Sekertariat :
PT. INTAN KHARISMA RECORD
Gedung Arthaloka Lt.14 Jl.Jendral Sudirman Kav 2. Jakarta Selatan. 10220.
Telp: 021-57939142 Fax: 021-57933263

STUDI KASUS ABU GHURAIB TERHADAP PELANGGARAN INSTRUMEN HUKUM HUMANITER ( KONVENSI JENEWA TAHUN 1949 PASAL 13 )


Pelanggaran terhadap HAM terutama yang berkaitan dengan pelanggaran HAM berat termasuk salah satunya adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang diatur dalam Statuta Roma 19981, yang mana terkait dengan kasus Abu Ghuraib ini amatlah meresahkan dunia HAM Internasional. Kasus yang terjadi 4 tahun silam ini bermula dari masalah invasi Amerika ke Irak. Tentara AS yang dikirim ke Irak ternyata melakukan kekerasan terhadap para tawanan perang. Hal ini kemudian berlanjut pada pembunuhan 25 orang pengikut Imam Muqtada Al-Sadr. Semakin hari tentara AS semakin brutal. Mereka melakukan penindasan dan pelecehan seksual terhadap sejumlah tawanan perang Irak. Karena terbongkarnya kasus inilah kemudian dunia internasional mengambil sikap untuk segera menyelesaikan kasus ini dengan merujuk pada instrument hukum humaniter, Konvensi Jenewa 1949 pasal 13.

Melihat pada fakta yang ada, dengan banyaknya pelanggaran terhadap hukum humaniter dalam perang Irak ini, pertanyaan yang sering kali muncul adalah apakah hukum humaniter masih efektif berlaku dan apakah pelaku pelanggaran terhadapnya dapat dipersalahkan dan kemudian diadili dengan dalil melanggar hukum humaniter?

Perlindungan terhadap tawanan perang dalam konstelasi hukum internasional termasuk dalam hukum humaniter yang mana berisi tentang HAM yang secara spesifik ditujukan pada saat perang, perlindungan terhadap sejumlah orang yang tidak mengikuti perang serta tata cara dan metode berperang. Salah satu instrument yang mengatur tentang hal tersebut adalah Konvensi Jenewa yang telah diratifikasi oleh Amerika Serikat pada 2 Agustus 19552 dan 100 negara anggota PBB, sehingga dalam hal ini AS yang menjadi salah satu Negara pemrakarsa HAM ini telah memperlihatkan ketidakhormatannya terhadap prinsip-prinsip hukum dan HAM. Dalam Konvensi Jenewa pada pasal 13 disebutkan bahwa tawanan perang (prisioner of war) harus diperlakukan sama secara kemanusiaan dalam semua keadaan (must all times be humanly treated). Setiap perlakuan yang menyimpang dari pihak penahan adalah dilarang keras dan dikategorikan sebagai pelanggaran yang amat serius terhadap Konvensi Jenewa (serious brench to Geneva Convention). Kemudian, tawanan perang harus dilindungi setiap saat dari kekerasan, intimidasi, penghinaan, dan publisitas.3

Konvensi Jenewa amat eksplisit dalam melarang prajurit memperlakukan tawanan perang dengan tidak memanusiawikan mereka. Sehingga, dapat dikatakan bahwasanya hukum humaniter tidak berlaku efektif jika melihat dari kasus Abu Ghuaib yang telah dilakukan oleh AS ini. Meskipun demikian diharapakn pihak yang bersengketa tetap terikat dan wajib mematuhi hukum humaniter karena telah menjadi hukum kebiasaan internasional yang merupakan sumber-sumber hukum internasional.

Sedangkan, para pelanggar hukum humaniter di Irak sangat bisa dipersalahkan dan diadili. Kemudian, para pelaku tersebut dihukum setara dengan kejahatan perang karena hal ini adalah pelanggaran yang dapat meningkat menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sebenarnya, keinginan dari hukum humaniter amatlah simple. Hukum ini tidak melarang adanya perang ataupun mempermasalahkan bagaimana perang itu terjadi, melainkan hukum ini hanya ingin adanya ketegakan HAM dalam situasi apapun. Seperti halnya perlindungan terhadap warga sipil, tentara yang tidak mengikuti perang, serta tawanan perang memiliki hak yang sama dalam hukum dan layak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam artian yang manusiawi. Membuat perang lebih manusiawi, itulah inti dari keinginan hukum humaniter.

1 Romli Atmasasmita, Kapita Selekta Hukum Pidana Internasional, CV Utomo, Bandung, 2004, hlm.3

2 http://swaramuslim.net/morephp?id=P1900_0_1_0_C

Hyperlink http://swaramuslim.net/morephp?id=1869_0_1_26_m\t”_blank”

3 Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global, Penerbit Alumni, Bandung, 2003.

Kamis, 07 Agustus 2008


Ayooooooooooooooooooo...!!!

Adu Kemampuan Anda dalam bermusik dan Buktikan Kalo Kamu Memang layak Go Nasional Bersama Kami....

PT. INTAN KHARISMA RECORD.


.....DAFTARKAN SEGERA......

AUDISI & FESTIVAL MUSIK MERAIH BINTANG INDONESIA

Kategori :

  • BAND PELAJAR

  • BAND MAHASISWA

  • BAND UMUM

  • SOLO POP

  • SOLO DANGDUT


Syarat :

  • Biaya Administrasi Rp. 300.000,-

  • Menyerahkan Contoh Lagu Via Rekaman Kaset/Cd/Vcd

  • Untuk Group Band, Lagu karya Sendiri.

  • Foto Group Band Atau Penyanyi Ukuran 4R.


AUDISI 25 - 31 OKT 2008 TMII
SEMI FINAL 01 - 02 NOV 2008 TMII
GRAND FINAL
08 - 09 NOV 2008 TMII


Office :

PT. INTAN KHARISMA RECORD
JL. JENDRAL SUDIRMAN NO.2 GeDunG ARTHALOKA Lt.14
Jakarta Selatan 10220.


E-mail : inka_record@yahoo.com
Contact Person : 021 99835535 ( Wahyu )
085691060781 ( aBid )

Senin, 21 Juli 2008

political-INTERVENSI AMERIKA SERIKAT MEMPENGARUHI STABILITAS POLITIK DI TIMUR TENGAH

INTERVENSI AMERIKA SERIKAT MEMPENGARUHI STABILITAS POLITIK
DI TIMUR TENGAH
  1. KEPENTINGAN YANG DIMILIKI OLEH AMERIKA DI TIMUR TENGAH.
Amerika pergi ke Timur Tengah pada awalnya didasari atas kediktatoran seorang pemimpin yang otoriter di negara Irak sejak tahun 1979. Amerika berkeinginan untuk menegakkan demokrasi serta Hak Asasi Manusia, karena Amerika melihat tindakan Irak yang agresif sehingga membahayakan warga negaranya sendiri. Selain alasan itu Amerika menganggap bahwa Iran juga membahyakan pihak lain (negara lain) karena dia mempunyai senjata nuklir sebagai senjata pemusnah massal. Semua alasan itulah yang mendorong Amerika untuk melakukan invasi di Irak pada athhun 2003 yang lalu sebagai salah satu tindakan awal untuk melakukan invasi ke negara-negara lain di Timur Tengah.
Setelah melakukan invansi di Irak ameriak tidak begitu saja puas. Kemudian dia melakukan aksinya lagi di beberapa negara-negara lain di Timur Tengah. Kepentingan yang melatar belakangi Amerika melakukan hal itu adalah; pertama, menjaga eksistetnsi negara Israel sebagai satu-satunya negara yang Timur Tengah yang Arab dan bukan islam. Kedua, menghalangi agar Uni Soviet tidak mempunyai pengaruh sama sekali di wilayah ini semasa Perang Dingin. Ketiga, menjaga kelancaran kepentingan Amerika dan juga kepentingan negara-negara Barat dalam mengakses minyak diwiliyah ini, baik dalam hal eksplorasi maupun suplai minyak. Keempat, melindungi perluasan investasi dan perdagangan Amerika di wilayah ini. Kelima, dengan kehancuran Uni Soviet, Amerika Serikat beranggapan paham komunisme akan digantikan dengan paham Islam Fundamental. Keenam, mencegah para penguasa yang dianggap radikal dan menentang kepentingan Amerika Serikat di wilayah ini, misalnya tekanan-tekanan Amerika yang ditujukan terhadap Irak adalah salah satu bentuk dari kebijakan Amerika dalam mencegah munculnya penguasa yang menentang kepetingan Amerika Serikat.1

  1. INTERVENSI AMERIKA DI TIMUR TENGAH.
Intervensi yang dilakukan oleh Amerika Serikat di negara-negara Timur Tengah tak hanya berakhir di wilayah Irak saja melainkan telah menjalar pada negara yang lain di Timur Tengah. Amerika Serikat kembali melontarkan ancaman kepada Iran. Di Gedung Putih, Presiden AS George W. Bush menyatakan, jika Iran memperkeruh suasana di Irak, AS tidak akan segan bertindak. Walaupun tidak mengandung ketegasan bahwa AS akan menginvasi Iran sebagaimana halnya ke Irak tahun 2003, namun tindakan itu pasti berupa aksi militer berskala besar.
Para pengamat Timur Tengah di kawasan Teluk, yang dilansir media-media setempat menilai, AS tampaknya "kepalang basah". Irak yang menjadi pertaruhan wibawa AS dihadapan negara-negara Arab, justru menimbulkan banyak masalah baru di luar dugaan.2
Metode yang dilakukan oleh Amerika melalui lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengisolasi, menghancurkan, menginvasi dan menjajah negeri para mullah itu sebagaimana yang dilakukannya terhadap Irak sudah biasa dilakukan AS dan Israel guna memaksakan kehendaknya bagi negara yang tidak mau masuk dalam lingkaran hegemoni AS. Para pemikir AS dan negara zionis itu bertahun-tahun bekerjasama memikirkan bagaimana cara menghancurkan negara di Timur-Tengah yang menjadi batu sandungan bagi kepentingan politik dan ekonominya dengan jalan berbagai macam provokasi dan manuver.

KUWAIT
Masih segar dalam ingatan bagaimana AS beserta sekutunya memprovokasi Irak untuk menyerang Kuwait tahun 1990. Setelah pasukan Irak menginvasi Kuwait barulah AS dan Israel berhasil mendapatkan legitimasi PBB untuk menyerang Irak pada perang Teluk I tahun 1991.
Belum puas atas tergulingnya presiden Saddam Hussein yang dilakukan George H.W. Bush senior, kemidian masalah ini diteruskan oleh putranya Bush junior yang menyerang Irak tahun 2003 dengan alasan Saddam Hussein mengembangkan senjata pemusnah massal, sponsor terorisme dan negara poros kejahatan bersama Suriah, Iran, Lybia dan Korea Utara.
Serangan Israel Ke Lebanon tahun lalu juga sudah dimatangkan dengan AS selama berbulan-bulan jauh sebelumnya. Dengan alasan menghancurkan kelompok Hizbullah yang membantu gerilyawan Palestina, Israel sebenarnya ingin menjajah Lebanon kembali seperti invasinya pada tahun 1982. Baru pada tahun 1990, Israel angkat kaki dari Libanon berkat perjuangan kelompok Hizbullah di Libanon Selatan.
Dan kali ini Iran mendapatkan giliran. Dengan alasan ingin menghentikan program nuklir Iran. Bukannya tidak mungkin AS dan Israel kelak menyerang negeri kaum “Islam Berjenggot” itu secara militer. Walaupun Iran berulangkali menyatakan bahwa program nuklir untuk tujuan damai guna memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya. Dengan alasan yang dibuat-buat Iran akan membuat senjata nuklir dan ini sangat membahayakan stabilitas kawasan Timur-Tengah, AS akan mendapat legitimasi PBB untuk menyerang Iran secara militer.

POLITIK MINYAK
Kampanye untuk menghancurkan Iran ini sudah lama dirancang AS dan Israel. Sejak hubungan Iran-AS yang harmonis terusik karena revolusi Islam Iran pimpinan Ayatollah Khomeini tahun 1979 berhasil menggulingkan pemerintahan rezim monarki Syah Reza Pahlevi dukungan kuat AS dan sekutu dekat Israel. Amerika Serikat hamper saja tercoreng mukanya karena dipermalukan oleh kaum mullah di Iran yang konservatif dan dianggap tak mempunyai pengaruh dan kekuatan apa-apa bagi negara sekuat dan selicik Amerika.
Sejak meletusnya revolusi Islam Iran yang membuat hubungan kedua Negara antara Amerika Serikat dan Israel terus-menerus melakukan kampanye untuk menghancurkan dan menginvasi Iran. Iran dituduh sebagai poros kejahatan dan sponsor terorisme. Ini disebabkan dukungan Iran terhadap kelompok Hamas di Palestina, Hizbullah di Libanon dan kelompok Islam militan lainnya yang anti Israel dan dominasi AS di kawasan Timur Tengah. Rencana AS menyerang Iran ini sudah beredar sejak dua tahun lalu. Bahkan sudah menjadi rahasia umum, setelah Majalah New York Workers edisi 24-31 Januari 2005, memuat tulisan Syemor M. Hers berjudul "The Coming Wars". Hers mengungkapkan, Iran menjadi bagian tak terpisahkan dari rancangan invasi AS ke Irak. Jika sukses di Irak, Iran akan menjadi sasaran berikutnya. Jika gagal, Iran sebagai negara tetangga terdekat Irak serta seteru lama AS harus menanggung limpahan akibat.3
AS memang sangat tergila-gila dengan sumber daya alam Iran yang kaya akan minyak, andaikan Iran diserang secara militer, AS bisa menguasai sumber minyak Iran yang diperkirakan 70 persen cadangan energi dunia ada di bumi negeri Teluk Parsi itu. Sementara dari segi politik, AS tetap memegang kendali pengaruhnya di Timur Tengah. Bagi Israel keuntungannya tentu saja berkurang pula negara yang menjadi ancaman bagi negara zionis itu. Israel yang terus khawatir akan eksistensi negaranya di tengah negara Arab itu ingin tetap mendominasi kawasan Timur-Tengah secara politik dan militer.

NUKLIR IRAN
Layaknya peribahasa “senjata makan tuan”, program nuklir Iran ini sebenarnya Amerika adalah pihak yang pertama kali memulai dan mengembangkannya. Program kerjasama nuklir Iran sendiri dimulai tahun 1957 dengan AS. Saat itu Shah Reza Pahlevi mulai berkuasa. Kemudian kerjasama itu menghasilkan pembentukan badan kajian nuklir yang disebut pusat atom di Universitas Teheran.
Dua tahun kemudian Iran mendirikan pusat riset Taheran. Pada tahun 1967, AS membantu pembangunan reaktor nuklir berkekuatan lima megawat lengkap dengan teknologi pengayaan uraniumnya. Setahun kemudian Iran menandatangani traktat nonprofilerasi nuklir. Pada tahun 1970, Shah Reza merencanakan kerjasama dengan Amerika dan sekutunya membangun 23 reaktor nuklir di seluruh negeri hingga tahun 2000.4
Busher reaktor nuklir pertama yang dibangun Iran pada 1975, untuk memenuhi kepentingan energi listrik di kota Shiraz. Pada tahun 1975 itu juga Henry Kissinger menandatangani National Secutiry Decision Memorandum 292 kerjasama nuklir AS-Iran. Setahun kemudian presiden AS Gerald Ford menawarkan Taheran untuk membeli, membangun dan mengopersikan fasilitas ekstrak plutonium dari bahan bakar reaktor nuklir.
"Singkatnya, tiga isu sentral AS (tiga isu sentral yang selalu dimunculkan AS itu adalah perlucutan senjata pemusnah, penumbangan rezim Saddam Hissein, dan stabilitas kawasan. Washington, tambahnya tampak selalu mengganti tiga isu itu secara bergantian dan sesuai perkembangan ) ini dibolak-balik untuk melawan opini anti perang dari masyarakat internasional," kata Bachtiar Aly.5
PBB sejauh ini tidak banyak berperan menghentikan peperangan di Irak. Dikatakannya, saat gencarnya gempuran AS ke Irak, Sekjen PBB Kofi Annan yang seharusnya menggunakan wewenangnya untuk menghentikan perang, justru hanya menyerukan bantuan kemanusiaan, tanpa mendesak dihentikannya peperangan.
Sikap Sekjen PBB ini secara tepat digambarkan Menteri Luar Neger RI, Hassan Wirayuda sebagai apa yang disebutnya mengkerdilkan peran PBB, ujar Prof Bachtiar Aly. Ia berpendapat, satu-satunya upaya pemulihan krisis Irak itu adalah pembentukan pemerintahan yang memiliki legitimasi dan melibatkan semua unsur masyarakat tanpa campur tangan asing. Sumbangan terpenting dunia internasional saat ini hendaknya mendorong kuat rakyat Irak untuk menatap masa depan, agar tidak hanya terpaku pada persoalan masa silam. Sikap ini perlu ditanamkan kepada rakyat Irak agar segera keluar dari krisis, katanya.

1 Setiawati, siti muti’ah, Irak di Bawah Kekuasaan Amerika, hal. 70, Yogyakarta : PPMTT HI FISIPOL UGM, 2004.
3 ibid